Lahan SMAN 9 Depok dikomplain warga

Mau bertanya klik disini         Mau berkomentar klik disini
Oleh Asti Ediawan| 12 Juli 2012 14:41

CINERE, MONDE : Rencana pembangunan gedung SMAN 9 Depok yang berlokasi di Jalan Bali Blok H RW 13, Kelurahan Cinere bakal terganjal permasalahan lahan.

Pasalnya menurut pengakuan warga perumahan Megapolitan khususnya warga yang berdomisili di RW 13, lahan seluas 5.420 m² yang kini diperuntukan bagi bangunan SMAN 9 Depok, tadinya merupakan lahan yang diproyeksikan untuk lahan terbuka hijau dan arena olahraga.

Sarana olahraga bagi warga setempat ini sudah sesuai yang tercantum di site plan yang dibuat pada tahun 1985 oleh pengembang perumahan. Perubahan peruntukan lahan fasum tersebutlah yang memicu protes dari warga setempat yang pada akhirnya melayangkan surat protes ke lurah dan pihak terkait.

Mereka menolak rencana pembangunan gedung sekolah di areal tersebut, lantaran pada saat itu pihak pengembang pernah berjanji akan mengoptimalkan lahan fasum itu untuk Taman Dan Ruang Terbuka Hijau (RTH).

Dalam surat bernomor 015/VII/2012 yang dikirim pada tanggal 2 Juli yang ditandatangani oleh Ketua RW 13 Burhanuddin dan seluruh Ketua RT di wilayah RW 13 warga menyatakan keberatan atas pembangunan gedung sekolah di atas lahan fasum dan meminta kepada pihak pengembang untuk menepati janjinya membangun taman dan RTH diatas lahan itu.

Menyikapi hal ini Camat Cinere Widyati Riyandani mengaku telah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Kota Depok dan bagian aset agar segera melakukan sosialisasi kepada warga dan pengurus lingkungan setempat terkait rencana pembangunan gedung SMAN 9 Depok yang rencananya akan segera dimulai.

“Ya saya sudah baca surat dari pengurus lingkungan RW 13 Cinere itu dan saya sudah berkoordinasi dengan dinas terkait agar segera melakukan sosialisasi ke warga karena jika tidak kami khawatir pembangunan gedung SMAN 9 ini akan terhambat,” kata Widya.

Dikatakan Widya sesuai penjelasan Satibi Pegawai dari Bagian Aset Kota Depok semula lahan Blok G, H dan J Perumahan Megapolitan itu memang direncanakan untuk areal Ruang Terbuka Hijau (RTH) dari data tersebut tercantum di site plan tahun 1985.

Hanya saja kata Widya, pada berita acara itu dikatakan bahwa sebagian lahan yang tadinya diperuntukkan bagi RTH diubah peruntukkannya menjadi lahan untuk sekolah.

“Sekarang yang terpenting menurut saya pihak Disdik dan bagian aset harus sosialisasi dulu kepada warga setempat karena saya yakin jika warga dan pengurus lingkungan diajak bicara maka permasalahan ini akan mencair,” pungkas Widya. (ast)

About these ads